Dialektika Kekuatan Bangsa dalam Sistem Dunia

Indonesia

Dalam memahami peta kekuatan global, terdapat pola yang terus berulang dan dapat diamati secara historis. Jika sebuah negara memiliki sumber daya alam yang kaya, sumber daya manusia yang maju, sistem demokrasi yang liberal, serta didukung oleh kepemilikan senjata nuklir, maka negara tersebut berpotensi besar menjadi sebuah super power. Dunia modern hanya mengenal satu negara yang memenuhi konfigurasi tersebut secara relatif utuh, yaitu Amerika Serikat.


Konfigurasi Super Power Dunia

Amerika Serikat: Dominasi Lengkap

Amerika Serikat adalah contoh paling nyata dari negara dengan kombinasi kekuatan yang nyaris sempurna. Kekayaan sumber daya alamnya menopang pertumbuhan ekonomi, sementara kualitas sumber daya manusianya menjadi motor inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Demokrasi liberal memberi ruang kebebasan berpikir dan berkreasi, sedangkan kepemilikan senjata nuklir memastikan posisi tawar yang kuat dalam politik global. Dengan kombinasi tersebut, Amerika Serikat cenderung tidak ingin diganggu dan mampu mempengaruhi arah dunia.

Rusia dan China: Super Power Penantang

Berbeda dengan Amerika Serikat, Rusia dan China juga memiliki sumber daya alam yang besar dan sumber daya manusia yang maju, serta dilengkapi senjata nuklir. Namun, sistem politik yang tidak liberal membentuk karakter kekuasaan yang berbeda. Keduanya tetap menjadi super power, tetapi cenderung melawan dan menantang dominasi Barat. Pertarungan pengaruh ini bukan sekadar konflik kepentingan, melainkan juga pertarungan visi peradaban.

India dan Pakistan: Kekuatan dengan Konflik Internal

India dan Pakistan menunjukkan konfigurasi yang lebih kompleks. Dengan sumber daya alam yang relatif maju, demokrasi yang lebih terbuka, serta kepemilikan senjata nuklir, kedua negara ini sering dilanda konflik sosial. Namun, konflik tersebut tidak serta-merta memecah negara. Justru keberadaan senjata nuklir dan struktur negara yang kuat membuat mereka tetap bertahan sebagai satu kesatuan.

Eropa dan Paradoks Kekuatan

Eropa memiliki sumber daya manusia yang sangat maju serta sistem demokrasi liberal yang mapan. Beberapa negara bahkan memiliki senjata nuklir. Namun, keterbatasan sumber daya alam membuat Eropa tidak tampil sebagai satu super power tunggal. Kekuatan Eropa bersifat kolektif, kuat secara ekonomi dan teknologi, tetapi tidak hegemonik secara geopolitik.

Indonesia dan Negara-Negara Objek Sistem Dunia

Kaya Alam, Lemah Manusia

Indonesia, Amerika Latin, dan Afrika berada pada konfigurasi yang paling rentan. Negara-negara ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, namun kualitas sumber daya manusianya belum cukup kuat. Dengan sistem politik yang relatif liberal dan tanpa kepemilikan senjata nuklir, negara-negara ini kerap menjadi objek kepentingan global. Kekayaan alam justru menjadi magnet konflik dan intervensi, sementara lemahnya sumber daya manusia mempermudah terjadinya ketegangan sosial.

Sejarah Tidak Menghargai Orang Miskin dan Orang Cerdas

Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak ramah terhadap dua kelompok masyarakat paling penting, yaitu orang miskin dan orang cerdas. Sejak pra-republik hingga pasca-republik, kedua kelompok ini sering menjadi korban kebijakan dan ketidakadilan. Orang miskin mudah dibeli dengan uang seratus atau dua ratus ribu rupiah, sementara orang cerdas kerap digaji jauh di bawah nilai kontribusinya.

Upaya Menghargai Manusia dan Tantangan Persatuan

Berbagai kebijakan seperti makan bergizi gratis, cek kesehatan gratis, sekolah unggulan di pelosok, dan peningkatan akses pendidikan merupakan upaya untuk mulai menghargai orang miskin dan orang cerdas. Upaya ini tentu tidak sempurna, karena harga yang harus dibayar sering kali adalah kompromi demi persatuan dan stabilitas nasional. Namun, proses ini merupakan bagian dari dialektika sejarah.

Long March Bangsa Menuju Kematangan

Bangsa-bangsa besar tidak lahir dari kenyamanan dan kemapanan, melainkan dari kesadaran akan keterbatasan. Perjalanan sebuah bangsa adalah long march, bukan sekadar perjalanan lima tahunan yang diatur oleh siklus pemilu. Kekhawatiran terbesar adalah jika generasi mendatang tetap hidup dalam negara yang menomorduakan orang miskin, kreatif, dan cerdas. Jika itu terjadi, oligarki akan terus berkuasa dan potensi bangsa tidak pernah benar-benar merdeka.

Sejarah mengajarkan satu hal penting: bangsa yang tidak memuliakan manusianya, tidak akan pernah berdaulat sepenuhnya. Indonesia masih berada dalam perjalanan panjang itu, menentukan apakah akan terus menjadi objek dunia atau bangkit dengan kekuatan manusianya sendiri.